Asal Kena
Tidak Banyak Bicara, Tahu-Tahu Sudah Beres

DI setiap komplek biasanya ada manusia yang kalau ada kegiatan, sibuk bertanya, “Saya bagian apa?” Ada juga yang bertanya, “Kapan mulai?” Ada yang lebih canggih lagi: datang setelah semuanya hampir selesai, lalu bertanya, “Ada yang bisa dibantu?”
Di Senopati Banjaran, ada Rizky.
Rizky agak beda.
Kalau ada aktivitas atau kegiatan di komplek, dia tidak banyak bertanya. Tidak menunggu instruksi. Tidak perlu dipanggil lewat toa. Tidak perlu di-tag di grup WhatsApp dengan kalimat, “Rizky, bisa bantu?” Manehna mah geus gerak ti heula.
Apa yang bisa dikerjakan, dikerjakan. Ada yang perlu diangkat, diangkat. Ada yang perlu dibereskan, dibereskan. Ada pekerjaan yang belum jelas siapa yang mengerjakan, biasanya Rizky sudah ada di sekitar sana dengan ekspresi datar seperti pegawai tetap yang lupa meminta gaji.
Yang menarik, Rizky tidak punya kebiasaan membuat pengumuman tentang apa yang sudah dia kerjakan. Tidak ada foto sedang memegang sapu dengan caption, “Sedikit kontribusi untuk lingkungan.” Tidak ada story tiga slide. Tidak ada kalimat, “Alhamdulillah, hari ini bisa bermanfaat.”
Manehna mah kerja we. Selesai. Lalu ngaleos.
Kalau mampir ke Dwi Center alias Pos Satpam Senopati, Rizky justru lebih sering mengambil posisi sebagai pendengar. Di antara manusia-manusia yang kalau sudah nongkrong bisa mengubah obrolan dari harga cabai sampai strategi negara, Rizky lebih banyak diam.
Mendengar. Sesekali tersenyum. Sesekali menimpali seperlunya.
Selebihnya menjadi bukti bahwa ternyata nongkrong tidak harus selalu menghasilkan pendapat.
Mungkin Rizky sadar, manusia sudah terlalu banyak bicara. Yang kurang justru manusia yang mau bekerja. Sebab di zaman sekarang, ngomong mah gampang. Tinggal buka mulut. Tapi da lamun kudu ngalakukeun, beda caritana.
Di Dwi Center, dia bukan tipe yang harus selalu terdengar suaranya. Kualitas dirinya tidak bergantung pada seberapa sering namanya disebut. Tidak harus jadi pusat perhatian. Tidak perlu ngabéjaan ka saréréa bahwa dirinya sudah membantu.
Dia rendah hati. Rajin kerja. Dan yang paling penting, jauh dari spesies manusia yang tidak tahu diri.
Spesies yang merasa lingkungan adalah milik orang lain, fasilitas adalah haknya, tapi urusan tanggung jawab mendadak menjadi urusan bersama.
Rizky tidak begitu. Dia seperti colokan listrik di pojokan rumah: tidak banyak gaya, jarang diperhatikan, tapi ketika dibutuhkan ternyata berguna. Teu loba cingogo, tapi aya gunana.
Barangkali begitulah seharusnya manusia hidup di sebuah lingkungan. Tidak perlu selalu paling depan. Tidak harus paling ramai. Tidak perlu paling banyak bicara.
Cukup hadir ketika dibutuhkan. Cukup membantu ketika bisa. Cukup bekerja tanpa menunggu disuruh.
Sebab pada akhirnya, di sebuah komplek, yang paling terasa manfaatnya bukan manusia yang paling sering bicara tentang kebersamaan. Tapi manusia yang diam-diam ikut membuat kebersamaan itu tetap berjalan.
Dan di Senopati, salah satunya bernama Rizky. Manusia yang tidak banyak omong. Tidak banyak gaya. Tidak sibuk mencari tepuk tangan.
Tapi kalau ada kerjaan… Tahu-tahu sudah beres.
Nya kitu meureun cara Rizky ngabantu: teu kudu loba carita, nu penting aya manfaatna.***
-
Asal Kena7 bulan agoDunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah
-
Campuran4 bulan agoFilosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok
-
Campuran4 bulan agoAbang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!
-
Asal Kena4 bulan agoUntung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus
-
Campuran3 bulan agoJelang Pemilihan RT 06 Senopati, Survei SSI Tempatkan Sona Adriana di Posisi Teratas
-
Asal Kena4 bulan agoPunya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker
-
Campuran4 bulan agoKata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”
-
Asal Kena4 bulan agoAgak Stres Boleh, Asal Jangan Gila!
