Connect with us

Asal Kena

KDM, Manusia yang Bodo Amat Mau Jadi Apa

Published

on

BEBERAPA tahun ke belakang, saya cukup lama mengikuti Kang Dedi Mulyadi alias KDM. Beberapa kali juga pernah ngobrol langsung dengan beliau. Sekarang, beliau sudah menjadi Gubernur Jawa Barat.

Ada satu hal yang menarik dari sosok KDM. Menurut saya, beliau ini seperti orang yang tidak terlalu pusing memikirkan mau jadi apa. Yang penting, hidup harus tetap asyik, terus berkarya, dan sebisa mungkin membahagiakan banyak orang.

Saya pernah mendengar beliau berucap, “Uing bodo teuing ah, rék jadi naon ogé. Nu penting bisa ngabagjakeun loba jalma.”

Artinya kurang lebih, saya mah bodo amat mau jadi apa juga. Yang penting bisa membahagiakan banyak orang.

Kalimat sederhana, tapi maknanya lumayan dalam. Apalagi buat kita yang kadang belum jadi apa-apa, sudah sibuk memikirkan pengakuan orang lain. Belum punya jabatan, ingin dihormati. Belum punya prestasi, ingin diapresiasi. Bahkan belum tentu ditanya, sudah sibuk menjelaskan pencapaian.

KDM, setidaknya dari yang saya lihat, punya cara sendiri dalam menikmati hidup. Berkegiatan, turun ke masyarakat, berkreasi, membantu orang. Seolah-olah kebahagiaannya bukan cuma soal apa yang berhasil dia raih, tetapi juga apa yang bisa dia berikan.

Sekarang, nama KDM ramai dibicarakan dalam berbagai survei politik. Elektabilitasnya pun terbilang tinggi. Salah satu pemberitaan survei SMRC pada Oktober 2026 menempatkannya di posisi teratas dalam simulasi calon presiden dengan angka 35,5 persen.

Tapi saya justru penasaran, apakah KDM sendiri terlalu sibuk memikirkan angka-angka itu?

Sebab, kalau setiap hari harus memikirkan elektabilitas, komentar warganet, pujian, dan hujatan, kapan sempat menikmati hidup? Bisa-bisa baru bangun tidur sudah harus rapat dengan hasil survei. Sarapan belum, pikiran sudah seperti kantor partai menjelang pemilu.

Bukan berarti jabatan tidak penting. Menjadi gubernur tentu memberi kewenangan lebih besar untuk berbuat sesuatu. Namun, menurut saya, yang menarik dari KDM justru semangat berkaryanya itu tidak harus menunggu jabatan tertentu.

Kalau kemudian dipercaya menjadi gubernur, ya jalani pengabdian sebagai gubernur. Kalau suatu saat dipercaya memikul tanggung jawab lain, ya buktikan. Kalau tidak pun, bukan berarti hidupnya berhenti bermanfaat.

Sebab membahagiakan banyak orang tidak harus menunggu dilantik. Bahkan untuk membuat tetangga bahagia saja, kita tidak perlu menunggu surat keputusan gubernur.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan KDM ke depan. Namun, saya suka dengan gagasan sederhana yang pernah saya dengar darinya: tidak perlu terlalu pusing mau jadi apa, selama masih bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama.

Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal kita berhasil menjadi siapa, tetapi juga berapa banyak orang yang ikut merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Kalau prinsipnya begitu, mau jadi apa pun, yang penting jangan cuma jadi bahan omongan. Minimal, jadi orang yang bikin hidup orang lain sedikit lebih bahagia.***

Ibon

Terpopuler

Copyright © 2026