Campuran
Bahagia Tanpa Cinta? Dorian Gray dan Dilema Abadi Kaum Lelaki

CINTA adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup manusia. Ia mampu membuat seseorang yang biasanya cuek berubah menjadi penuh perhatian. Ia juga bisa mengubah orang yang tadinya rasional menjadi sangat emosional. Tak sedikit pula yang mendadak menjadi penyair, filsuf, bahkan detektif amatir hanya karena satu orang.
Aneh memang. Sebelum jatuh cinta, hidup terasa sederhana. Pesan tidak dibalas selama berjam-jam? Biasa saja. Telepon tidak diangkat? Mungkin sedang sibuk. Foto bersama orang lain di media sosial? Tidak ada alasan untuk memikirkannya.
Namun, begitu cinta hadir, segala sesuatu mendadak memiliki makna tersembunyi. Kata “iya” bisa ditafsirkan sebagai tanda marah. Tanda titik di akhir pesan dianggap pertanda hubungan sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memikirkan mengapa pesan dibalas lebih singkat dari biasanya.
Di sinilah Oscar Wilde, melalui tokoh Dorian Gray, melontarkan pernyataan yang hingga hari ini masih sering diperdebatkan:
“Seorang pria bisa bahagia dengan wanita mana pun selama dia tidak mencintainya.” (Dorian Gray)
Sepintas, kalimat itu terdengar sinis, bahkan terkesan merendahkan cinta. Tetapi jika direnungkan lebih jauh, Dorian Gray tampaknya sedang menyingkap satu kenyataan tentang manusia: semakin besar rasa cinta, semakin besar pula potensi untuk merasa takut, cemas, dan terluka.
Para filsuf Stoa sejak ribuan tahun lalu telah mengingatkan bahwa penderitaan manusia sering kali bukan berasal dari keadaan itu sendiri, melainkan dari keterikatan yang berlebihan. Ketika kebahagiaan sepenuhnya disandarkan pada orang lain, maka ketenangan batin pun ikut bergantung pada sikap dan keputusan orang tersebut.
Karena itulah, orang yang tidak mencintai sering terlihat lebih tenang. Mereka tidak sibuk memeriksa kapan terakhir seseorang online, tidak memikirkan siapa yang memberi tanda suka pada unggahan pasangannya, dan tidak terjaga hingga dini hari hanya karena pesan yang belum dibalas.
Tetapi hidup tanpa cinta juga bukan jawaban.
Seseorang mungkin dapat terhindar dari patah hati dengan tidak pernah mencintai. Namun, ia juga akan kehilangan salah satu pengalaman paling indah sekaligus paling manusiawi: merasakan kasih sayang yang tulus kepada orang lain.
Cinta memang berisiko. Ia bisa membuat seseorang terluka, kecewa, bahkan patah hati. Namun, cinta juga mampu membuat manusia bertumbuh, belajar tentang pengorbanan, kesabaran, dan penerimaan.
Mungkin pelajaran yang sebenarnya ingin disampaikan Dorian Gray bukanlah agar manusia berhenti mencintai. Sebaliknya, manusia perlu belajar mencintai tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebab cinta yang sehat bukanlah cinta yang membuat seseorang terus-menerus cemas, melainkan cinta yang memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tetap menjadi dirinya masing-masing.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang menderita bukan selalu cinta itu sendiri, melainkan ketika ia menyerahkan seluruh kebahagiaannya kepada orang lain.
Dan barangkali, di situlah letak kebijaksanaan cinta: mencintai dengan sepenuh hati, tanpa menggantungkan seluruh hidup pada hati yang lain.***
Sumber: The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde.
-
Asal Kena4 bulan agoDunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah
-
Campuran1 bulan agoAbang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!
-
Campuran2 bulan agoFilosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok
-
Asal Kena2 bulan agoUntung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus
-
Campuran1 bulan agoKata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”
-
Asal Kena4 minggu agoAgak Stres Boleh, Asal Jangan Gila!
-
Asal Kena1 bulan agoPunya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker
-
Campuran7 hari agoJelang Pemilihan RT 06 Senopati, Survei SSI Tempatkan Sona Adriana di Posisi Teratas
