Connect with us

Campuran

Filosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok

Published

on

KADANG saya suka bingung sendiri. Kok bisa ya, manusia segoblok saya ini masih dikasih umur panjang, dikasih teman baik, dikasih kesempatan hidup berkali-kali. Padahal kalau hidup ini pakai sistem ranking, mungkin saya sudah kena degradasi sejak lama.

Saya ini orang bloon. Bukan bloon yang lucu kayak di sinetron. Tapi bloon yang kalau ada peluang datang malah bilang, “Besok aja ah.”

Besoknya? Lupa.

Lusa? Ketiduran.

Minggunya? Sibuk bikin rencana baru yang ujung-ujungnya cuma jadi draft di kepala.

Saya sering iri sama orang-orang rajin. Mereka bangun pagi, olahraga, kerja fokus, punya target hidup. Lah saya? Bangun pagi kadang cuma buat mindahin posisi tidur dari kasur ke sofa. Produktif sekali.

Bahasa Sundanya hoream. Tapi hoream saya ini levelnya sudah kayak warisan leluhur. Mau mulai sesuatu rasanya berat sekali. Bukan karena gak mampu, tapi karena otak saya terlalu jago bikin alasan.

“Masih ada waktu.”

“Lagi gak mood.”

“Nanti kalau sudah siap.”

Padahal hidup gak pernah nunggu orang siap.

Lucunya, saya ini termasuk orang yang banyak mimpi. Pengen sukses. Pengen berguna. Pengen bikin bangga orang tua. Pengen hidup tenang. Tapi kelakuan sehari-hari malah kayak pegawai magang di kehidupan sendiri.

Kadang saya mikir, mungkin Tuhan menciptakan rasa malu supaya manusia mau berubah. Tapi anehnya, saya sering kalah sama rasa nyaman. Nyaman rebahan. Nyaman menunda. Nyaman jadi penonton hidup orang lain.

Dan itu capek.

Karena makin dewasa, kita sadar satu hal: orang lain mungkin masih bisa memaklumi kebodohan kita, tapi hidup tidak. Tagihan tetap datang. Umur tetap jalan. Kesempatan tetap lewat. Dunia gak peduli kita lagi semangat atau lagi males.

Yang lebih nyesek, sebenarnya banyak orang berharap saya jadi orang bener. Ada keluarga yang diam-diam nunggu saya berhasil. Ada teman yang percaya saya punya potensi. Bahkan ada orang yang kadang memuji saya lebih tinggi daripada kenyataan.

Sayangnya mereka belum tahu kalau sebagian besar isi kepala saya itu cuma campuran overthinking, rebahan, dan niat palsu.

Tapi mungkin hidup memang begitu. Manusia itu bukan rusak karena gagal, melainkan karena terlalu sering menunda perbaikan. Kita kira hidup hancur karena satu kesalahan besar. Padahal seringnya karena kebiasaan kecil yang dibiarkan tumbuh: bangun kesiangan, malas bergerak, terlalu banyak alasan, terlalu sedikit aksi.

Saya belum jadi orang sukses. Bahkan buat konsisten saja masih megap-megap. Tapi akhir-akhir ini saya mulai sadar, mungkin hidup gak minta saya jadi hebat dulu. Hidup cuma minta saya berhenti kabur dari tanggung jawab kecil.

Karena ternyata melawan rasa malas itu bukan soal motivasi. Tapi soal mau bergerak walaupun hati masih pengen goleran.

Dan percayalah, bagi orang horeaman kayak saya, bangun lalu mandi sebelum jam 10 pagi saja kadang sudah terasa seperti revolusi besar umat manusia.***

Trending

Copyright © 2026