Connect with us

Campuran

Kata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”

Published

on

ARSYLA itu anak saya yang kedua. Umurnya baru dua tahun. Anak kecil yang baru belajar banyak kata, tapi pertanyaannya kadang suka nusuk sampai ke kepala.

Kalau saya mau keluar rumah, dia pasti nanya:

“Ayah mau ke mana?”

Kalau saya agak lama di luar, dia bakal video call lewat ibunya sambil bilang:

“Ayah ada di mana?”

Lucu sih. Kadang bikin ketawa. Kadang juga bikin saya bengong sendiri.

Karena makin ke sini saya sadar, ternyata hidup memang isinya perjalanan terus. Berangkat, pulang, berangkat lagi. Besok begitu lagi.

Dan anehnya, orang dewasa sering pura-pura tahu arah.

Padahal mah banyak yang lagi jalan sambil nebak-nebak.

Termasuk saya.

Kadang melangkah ya cuma karena hari memang harus dijalani. Kadang kerja, ngobrol, ketawa, capek, pulang, lalu besok ngulang lagi seperti lagu yang diputer terus di warung kopi.

Tapi bedanya, sekarang ada anak kecil yang selalu nunggu saya pulang.

Ada suara mungil yang selalu penasaran ayahnya pergi ke mana.

Di situ saya sadar, mungkin hidup bukan soal kita sedang menuju apa. Tapi soal siapa yang membuat perjalanan itu terasa penting.

Sebab sebelum punya anak, pergi ya pergi aja.

Sekarang beda.

Mau keluar sebentar pun ada yang ngeliatin dari pintu. Ada yang dadah sambil mata bulatnya serius. Ada yang merasa ayahnya ini manusia paling penting sedunia.

Padahal ayahnya kadang cuma pergi beli kopi sambil mikirin hidup.

Anak kecil memang hebat ya.

Mereka bikin hal sederhana jadi punya makna.

Pertanyaan “Ayah mau ke mana?” itu sebenarnya biasa banget. Tapi entah kenapa kalau keluar dari mulut anak kecil, rasanya jadi kayak pengingat.

Bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, ada rumah yang bikin kita pengen pulang.

Dan mungkin memang begitu hidup.

Kita semua sebenarnya cuma orang-orang yang sedang berjalan ke suatu tempat yang belum sepenuhnya kita mengerti.

Tapi selama masih ada yang menunggu kita pulang dengan wajah bahagia, mungkin itu sudah cukup untuk membuat langkah tetap terasa hangat.

Jadi sekarang tiap Arsyila bilang,
“Ayah mau ke mana?”

Saya cuma senyum.

Karena ternyata, pertanyaan kecil itu diam-diam bikin perjalanan hidup terasa lebih hidup.***

Campuran

Abang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!

Published

on

By

ANAK pertama saya namanya Arshaka. Umurnya lima tahun. Dia anak pemalu, gak enakan, suka mengalah, polos, dan gampang sedih.

Kalau rebutan mainan, dia sering milih mundur. Kalau ada yang nyerobot antrean, dia cuma bengong sambil ngelus dada kecilnya yang mungkin belum ngerti kenapa dunia kadang isinya orang barbar berkedok manusia dewasa mini. Kadang saya gemas sendiri.

“Abang tuh jangan ngalah terus!”

Tapi habis ngomel begitu, biasanya saya malah nyesel. Soalnya beberapa menit kemudian dia datang sambil meluk saya tanpa dendam. Lah saya yang tadi galak malah jadi merasa kayak penjahat pinjol.

Saya punya keyakinan, ke depan Abang Shaka bakal jadi pelindung keluarga. Bukan karena dia paling kuat. Justru karena dia tahu rasanya kalah, rasanya sedih, rasanya disisihkan. Orang yang ngerti rasa sakit biasanya lebih hati-hati saat memperlakukan orang lain.

Masalahnya hidup ini kadang aneh.

Anak baik sering diajarin ngalah. Anak nakal malah sering menang.

Yang teriak paling keras dianggap paling benar. Yang sopan malah disuruh minggir.

Kadang saya takut dunia bikin dia capek.

Karena orang gak enakan itu sering dijadiin keset. Orang tulus sering dikira bego. Orang sabar sering diuji kayak lagi ikut try out kehidupan tanpa kisi-kisi.

Saya pernah lihat Abang Shaka sedih cuma gara-gara balonnya diambil anak lain. Dia gak marah. Dia malah bilang, “Gapapa Ayah…”

Nah itu dia masalahnya. Semua juga “gapapa” buat dia.

Padahal kalau saya jadi dia, mungkin udah bikin konferensi pers keluarga sambil menunjuk pelaku.

Kadang saya mikir, anak pertama itu nasibnya unik. Dia lahir saat orang tuanya masih sama-sama belajar jadi ayah dan ibu. Jadi kelinci percobaan tapi versi halal. Dimarahin karena hal yang bahkan orang tuanya sendiri belum tentu ngerti.

Dan anak pertama sering tumbuh lebih cepat dari umurnya.

Dia belajar mengalah karena lihat ayah ibunya capek. Belajar diam karena takut bikin ribut. Belajar kuat walau sebenarnya masih pengen digendong.

Sementara dunia terus bilang: “Cowok jangan cengeng.” “Abang harus ngalah.” “Anak gede jangan nangis.”

Padahal dia baru lima tahun. LIMA TAHUN. Umur yang bahkan odol aja masih suka ketelen.

Saya sadar satu hal: mengalah itu baik, tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri.

Karena hidup bukan soal selalu menang. Tapi juga bukan soal selalu mundur demi bikin semua orang senang. Kadang kita perlu bilang “enggak.” Kadang kita perlu berdiri tegak walau lutut gemeter kayak sinyal WiFi habis kehujanan.

Saya berharap nanti Abang Shaka tumbuh jadi laki-laki yang lembut tapi gak lemah. Baik tapi gak bisa diinjak. Sabar tapi tahu kapan harus melawan.

Sebab dunia ini butuh lebih banyak orang baik yang berani. Bukan cuma orang baik yang diam.

Dan kalau suatu hari nanti Abang baca tulisan ini, Ayah cuma mau bilang:

“Maaf kalau Ayah sering marah.”

Kadang orang tua itu cintanya besar, tapi cara nyampainya berantakan. Kayak kabel headset di kantong celana.

Ayah gak pengen Abang jadi manusia sempurna. Ayah cuma pengen Abang tetap punya hati baik, meski nanti dunia gak selalu baik sama Abang.

Mengalah aja kalau memang perlu. Tapi jangan pernah kalah jadi orang baik.***

Continue Reading

Campuran

Filosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok

Published

on

By

KADANG saya suka bingung sendiri. Kok bisa ya, manusia segoblok saya ini masih dikasih umur panjang, dikasih teman baik, dikasih kesempatan hidup berkali-kali. Padahal kalau hidup ini pakai sistem ranking, mungkin saya sudah kena degradasi sejak lama.

Saya ini orang bloon. Bukan bloon yang lucu kayak di sinetron. Tapi bloon yang kalau ada peluang datang malah bilang, “Besok aja ah.”

Besoknya? Lupa.

Lusa? Ketiduran.

Minggunya? Sibuk bikin rencana baru yang ujung-ujungnya cuma jadi draft di kepala.

Saya sering iri sama orang-orang rajin. Mereka bangun pagi, olahraga, kerja fokus, punya target hidup. Lah saya? Bangun pagi kadang cuma buat mindahin posisi tidur dari kasur ke sofa. Produktif sekali.

Bahasa Sundanya hoream. Tapi hoream saya ini levelnya sudah kayak warisan leluhur. Mau mulai sesuatu rasanya berat sekali. Bukan karena gak mampu, tapi karena otak saya terlalu jago bikin alasan.

“Masih ada waktu.”

“Lagi gak mood.”

“Nanti kalau sudah siap.”

Padahal hidup gak pernah nunggu orang siap.

Lucunya, saya ini termasuk orang yang banyak mimpi. Pengen sukses. Pengen berguna. Pengen bikin bangga orang tua. Pengen hidup tenang. Tapi kelakuan sehari-hari malah kayak pegawai magang di kehidupan sendiri.

Kadang saya mikir, mungkin Tuhan menciptakan rasa malu supaya manusia mau berubah. Tapi anehnya, saya sering kalah sama rasa nyaman. Nyaman rebahan. Nyaman menunda. Nyaman jadi penonton hidup orang lain.

Dan itu capek.

Karena makin dewasa, kita sadar satu hal: orang lain mungkin masih bisa memaklumi kebodohan kita, tapi hidup tidak. Tagihan tetap datang. Umur tetap jalan. Kesempatan tetap lewat. Dunia gak peduli kita lagi semangat atau lagi males.

Yang lebih nyesek, sebenarnya banyak orang berharap saya jadi orang bener. Ada keluarga yang diam-diam nunggu saya berhasil. Ada teman yang percaya saya punya potensi. Bahkan ada orang yang kadang memuji saya lebih tinggi daripada kenyataan.

Sayangnya mereka belum tahu kalau sebagian besar isi kepala saya itu cuma campuran overthinking, rebahan, dan niat palsu.

Tapi mungkin hidup memang begitu. Manusia itu bukan rusak karena gagal, melainkan karena terlalu sering menunda perbaikan. Kita kira hidup hancur karena satu kesalahan besar. Padahal seringnya karena kebiasaan kecil yang dibiarkan tumbuh: bangun kesiangan, malas bergerak, terlalu banyak alasan, terlalu sedikit aksi.

Saya belum jadi orang sukses. Bahkan buat konsisten saja masih megap-megap. Tapi akhir-akhir ini saya mulai sadar, mungkin hidup gak minta saya jadi hebat dulu. Hidup cuma minta saya berhenti kabur dari tanggung jawab kecil.

Karena ternyata melawan rasa malas itu bukan soal motivasi. Tapi soal mau bergerak walaupun hati masih pengen goleran.

Dan percayalah, bagi orang horeaman kayak saya, bangun lalu mandi sebelum jam 10 pagi saja kadang sudah terasa seperti revolusi besar umat manusia.***

Continue Reading

Trending

Copyright © 2026