Connect with us

Asal Kena

Pengemis Minta Duit, Kita Minta Dianggap Sultan, Padahal Lebih Susah, Apes!

Published

on

KADANG saya pengin bilang ke pengemis, “Pak, Bu, urang téh sabenerna sarua. Sama-sama butuh duit. Bedanya, Bapak mah jujur kelihatan susah, ari saya mah susah tapi maksa kelihatan mapan.”

Keluar rumah pakai kemeja rapi, parfum mahal, rambut klimis. Gayanya CEO, padahal saldo rekening sedang menjalani kehidupan di ujung tanduk. Ditanya bisnis, jawabnya penuh optimisme. Ditanya omzet, langsung ngajak ngopi.

Urang téh kadang lain beunghar, ngan gengsi jeung gaya hirupna nu geus jadi anak sultan.

Pengemis menadahkan tangan, saya menadahkan invoice. Dia menunggu pemberian orang, saya menunggu klien yang bilang, “Sore ini saya transfer, Kang.” Bedanya, dia punya mangkuk, saya punya MacBook. Kalau sama-sama dijual, belum tentu yang punya mangkuk lebih menderita.

Tapi saya juga suka heran. Ada pengemis yang tiap hari minta uang, ada orang yang tiap hari memberi tanpa mikir panjang. Yang satu mengandalkan rasa kasihan, yang satu merasa sudah jadi orang baik setelah mengeluarkan dua ribu rupiah.

Pengemisnya belum tentu berubah nasib, yang ngasih sudah merasa masuk surga. Transaksinya sebentar, pahalanya sudah dihitung sampai akhirat.

Bukan berarti semua pengemis malas atau tak layak dibantu. Ada yang memang sedang kesusahan. Tapi membantu juga perlu akal sehat. Kalau bisa memberi makanan atau bantuan yang lebih tepat, kenapa harus selalu uang tunai?

Sebab, kasihan itu baik. Tapi kalau setiap tangan terulur langsung disambut dompet, jangan-jangan bukan cuma pengemis yang ketagihan. Kita juga ketagihan merasa jadi penyelamat.

Ujung-ujungnya, saya pun tak perlu banyak gaya. Duit pas-pasan, jangan sok sultan. Sebab bisa jadi pengemis lebih jujur soal keadaan daripada kita yang sibuk membangun citra.

Bapak mah minta duit. Ari saya mah minta dihargaan siga nu boga duit. Sarua waé, nu béda mah kostum jeung tingkat gengsi.***

Terpopuler

Copyright © 2026