Connect with us

Asal Kena

Slow Leaving: Jauh-jauh Mencari Ketenangan, Padahal yang Perlu Dipindahkan Cuma Isi Kepala

Published

on

SEKARANG hidup kayaknya punya tren baru: Slow Living. Capek hidup di kota, katanya. Mau pindah ke kampung.

Nanam padi, pelihara ayam, bikin kebun, bangun pagi ditemani embun, lalu upload foto dengan caption: “Akhirnya memilih hidup yang lebih sederhana.”

Lima menit kemudian buka Instagram buat lihat siapa yang nge-like. Sederhana dari mana, Jang? FOMO-nya masih full HD.

Saya malah kurang cocok dengan istilah slow leaving kalau maksudnya harus meninggalkan kota, pindah ke kampung, lalu merasa sudah menemukan kehidupan yang hakiki.

Lah, kalau memang bahagia di kampung, ya mangga. Kalau bahagia di kota, ya mangga. Kalau bahagia di kontrakan sambil makan gorengan, ya jangan minder.

Jangan sampai orang lain pindah ke desa, kita ikut pindah. Orang lain nanam cabai, kita ikut beli cangkul. Orang lain ternak ayam, kita ikut pelihara ayam. Besok orang lain bilang mau hidup dekat alam, kita malah jual rumah terus pindah ke kebun. Padahal ayam di rumah sendiri juga belum tentu kenal kita.

Ini bukan slow living, Jang. Ini FOMO yang sudah pakai sandal jepit.

Menurut saya, hidup enggak harus selalu meninggalkan sesuatu untuk menemukan ketenangan. Kadang yang perlu ditinggalkan bukan kota, tapi ekspektasi. Bukan pekerjaan, tapi kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain. Bukan rumah, tapi gengsi.

Bukan Instagram, tapi kebiasaan buka Instagram setiap lima menit sambil bertanya, “Kok hidup orang lain kayaknya enak semua?” Ya karena yang difoto cuma enaknya, Bosku. Mana ada orang upload: “Hari ini saya menyesal beli kambing.” Enggak ada. Yang ada: “Back to nature. Finding peace. Living slowly.” Padahal malamnya: “Kambing saya kesurupan, tolong.”

Buat saya, slow living yang sebenarnya bukan soal hidup lambat. Tapi soal hati yang enggak gampang keburu-buru.

Rezeki datang, syukuri. Rezeki seret, sabari. Rencana berhasil, nikmati. Rencana berantakan, ya rapikan lagi.

Ada yang lebih kaya, biasa. Ada yang lebih sukses, biasa. Ada yang pindah ke kampung dan punya sawah lima hektare, ya bagus. Saya juga ikut senang. Tapi jangan sampai saya harus punya sawah cuma supaya merasa hidup saya enggak gagal.

Karena ternyata yang bikin hidup melelahkan bukan selalu pekerjaan. Kadang kita sendiri yang sibuk mengejar kehidupan orang lain. Jadi kalau Tuhan masih menempatkan kita di kota, ya jalani. Kalau nanti dibawa ke kampung, ya jalani. Kalau masih harus berjuang dari rumah, ya jalani. Enggak usah buru-buru meninggalkan kehidupan cuma karena sedang tren slow living.

Sebab yang paling keren bukan orang yang berhasil kabur dari hiruk-pikuk dunia. Tapi orang yang tetap bisa tenang meskipun dunia di sekitarnya sedang ribut-ributnya. Itu baru slow: slow menerima, slow mengeluh, slow membandingkan, slow panik, dan yang paling penting: slow ikut-ikutan.

Pada akhirnya, saya enggak mau sibuk mencari kehidupan yang kelihatannya tenang. Saya cuma ingin belajar menerima kehidupan yang Tuhan kasih, tanpa terlalu banyak protes dan tanpa terlalu sibuk melihat halaman tetangga.

Sebab bisa jadi kita sibuk ingin punya kehidupan orang lain, sementara orang lain juga diam-diam pengin punya ketenangan yang ada di dalam diri kita.

Jadi kalau besok ada yang bilang, “Bro, gue mau slow leaving. Mau meninggalkan semuanya dan hidup sederhana di kampung.” Ya silakan. Saya dukung. Tapi jangan lupa: pindah kampung tidak otomatis memindahkan isi kepala.

Kalau isi kepalanya masih sibuk membandingkan, mengejar validasi, dan takut ketinggalan tren, mau tinggal di tengah sawah pun pikirannya tetap macet.

Saya mah enggak mau kabur dari kehidupan. Saya cuma mau selow menjalaninya. Kalau dikasih rezeki, alhamdulillah. Kalau dikasih ujian, ya bismillah. Kalau dikasih jalan mulus, gas.

Kalau dikasih jalan rusak, pelan-pelan. Kalau dikasih jalan buntu, ya mungkin disuruh putar balik. Enggak semua masalah harus diselesaikan dengan pindah kampung. Kadang cukup pindah cara berpikir.

Dan kalau suatu hari Tuhan benar-benar membawa saya ke kampung, punya kebun, nanam cabai, pelihara ayam, duduk di saung sambil ngopi… saya juga enggak akan bilang, “Inilah puncak kehidupan.”

Paling bilang:

“Alhamdulillah, ayeuna mah teu kudu macet. Tapi ari ayam masih sok ngaganggu sare.”

Karena mungkin slow living yang paling hakiki bukan hidup tanpa masalah. Tapi hidup dengan hati yang sudah tidak terlalu ribut mempersoalkan apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Selow wae. Hirup mah ulah kaburu-buru. Tuhan juga enggak pernah salah alamat ngasih rezeki. Tah Jang. Sugan. Cag.***

Terpopuler

Copyright © 2026