Connect with us

Asal Kena

Mas Dwi dan Filosofi Nasgor Izal

Published

on

MAS Dwi itu unik. Bukan unik yang kalau diteliti masuk jurnal ilmiah. Unik yang cukup diceritakan sambil ngopi di Pos Satpam Senopati Banjaran.

Di sana, Mas Dwi sudah seperti pejabat tetap. Pos satpam yang mestinya tempat berjaga, oleh warga malah lebih dikenal sebagai Dwi Center. Tidak ada kantor cabang. Tidak ada papan nama. Tidak ada jam pelayanan. Tapi kalau Mas Dwi ada, berarti buka.

Mau ngobrol, bisa. Mau ngopi, bisa. Mau ngabengong, bisa.

Mau membahas kehidupan sampai akhirnya lupa pembahasannya dari mana, juga bisa.

Salah satu keunikan Mas Dwi adalah hobinya jajan. Tapi jajan bagi Mas Dwi sepertinya bukan sekadar kegiatan membeli makanan. Jajan adalah perjalanan spiritual menuju dapur orang lain.

Contohnya nasi goreng Izal.

Izal ini jualan nasi goreng keliling di Komplek Senopati Banjaran. Jadi kalau malam-malam terdengar suara khas pedagang nasi goreng, warga mulai keluar.

Mas Dwi juga keluar.

Mungkin niat awalnya sederhana: membeli nasi goreng.

Tapi entah kenapa, ketika melihat Izal mulai memasak, naluri kemandirian Mas Dwi bangkit.

Bukannya duduk menunggu, dia malah ikut masak. Ini pembeli atau tenaga tambahan? Sulit dibedakan.

Izal yang tadinya keliling menjual nasi goreng, mendadak punya asisten dapur.

Mas Dwi ikut pegang wajan. Ikut ngaduk. Ikut masukin bahan. Mungkin tinggal menunggu Izal berkata, “Pak, besok masuk jam berapa?”

Di situ saya sadar, Mas Dwi punya prinsip hidup yang agak beda.

Kalau sesuatu bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain?

Masalahnya, dalam kasus ini sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri itu adalah nasi goreng milik orang lain.

Tapi ya sudahlah. Yang penting nasi matang. Pembeli senang. Izal mungkin bingung. Wajan selamat.

Dan sejarah kuliner Senopati bertambah satu cerita. Kadang memang begitu hidup.

Kita terlalu sering menganggap kebahagiaan harus datang dalam bentuk yang besar. Harus punya uang banyak. Harus pergi jauh. Harus makan di tempat mahal. Harus punya pencapaian yang bisa dipasang di media sosial.

Padahal bisa jadi bahagia itu sesederhana duduk di Pos Satpam, beli nasi goreng keliling, ngobrol sama teman, lalu tiba-tiba ikut menggoreng.

Tidak penting. Tidak menghasilkan sertifikat. Tidak menambah saldo rekening. Tapi membuat malam terasa lebih hidup.

Mungkin Mas Dwi tidak sedang mencari nasi goreng. Mungkin dia sedang mencari momen. Sebab nasi goreng akan habis. Minuman akan tandas. Gerobak Izal akan lanjut keliling. Malam juga sebentar lagi selesai. Tapi cerita kecilnya bisa tinggal lama.

Besok kalau ada yang bilang, “Tadi malam makan nasi goreng?”

Mas Dwi mungkin bisa menjawab:

“Makan mah iya. Masak oge.”

Begitulah Mas Dwi.

Di usia ketika sebagian orang sibuk mencari cara supaya hidupnya terlihat penting, Mas Dwi malah sibuk memastikan malamnya tidak membosankan.

Dan mungkin itu yang sering kita lupa. Hidup tidak selalu harus punya cerita besar.

Kadang cukup punya cerita yang membuat kita tersenyum ketika mengingatnya.

Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa hidup bukan selalu apa yang kita dapatkan, tapi siapa yang hadir dan apa yang kita lakukan di sela-sela hari yang biasa saja.

Termasuk ikut memasak nasi goreng keliling. Walaupun statusnya pembeli. Walaupun tidak diminta. Dan walaupun… Izal mungkin sebenarnya cuma ingin jualan dengan tenang. Gitu Mas…***

Terpopuler

Copyright © 2026