Asal Kena
Senopati Bodor Dideklarasikan: Boseh Dorong, yang Penting Jangan Mundur

MINGGU pagi, 4 Oktober 2026, Senopati Banjaran kembali melahirkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan umat manusia, tapi tetap layak disyukuri: Senopati Bodor.
Bodornya bukan sekadar bodor. Ini Boseh Dorong. Sebuah komunitas sepedaan yang dibentuk oleh beberapa warga yang tampaknya sudah terlalu lama memandangi sepeda di garasi sampai akhirnya sadar. Barang itu kalau tidak dipakai, cuma jadi gantungan handuk.
Komunitas ini dikomandoi Pa Pujo, sosok yang pagi itu harus memimpin pasukan dengan tingkat kesiapan yang berbeda-beda. Ada yang sudah siap gowes. Ada yang baru siap sarapan. Ada juga yang secara fisik ikut bersepeda, tetapi jiwanya masih di kasur.
Rute Minggu ini menuju Senona.
Jarak tempuh tidak terlalu penting. Yang penting berangkat dulu. Sebab dalam sejarah perjalanan manusia, banyak sekali tujuan besar yang akhirnya gagal bukan karena jauh, tetapi karena dari rumah sudah bilang, “Ah, nanti aja.”
Senopati Bodor punya prinsip sederhana. Boseh kalau kuat, dorong kalau sekarat.
Tidak ada tuntutan harus cepat. Tidak ada kewajiban harus kurus. Tidak ada target harus sehat. Sebab kalau tujuan utamanya kesehatan, sebenarnya cukup dengan mengurangi gorengan.
Tapi itu jelas mustahil.bApalagi kalau perjalanan melewati warung. Di situlah iman diuji.
Sepeda boleh punya gear 21 speed, tetapi nafsu terhadap bala-bala tetap single speed. Langsung gas.
Pa Pujo pun harus memahami bahwa memimpin komunitas sepedaan warga bukan perkara mudah. Yang dikomandoi bukan atlet Tour de France. Ini warga Senopati. Kalau terlalu cepat, rombongan tertinggal. Kalau terlalu lambat, rombongan malah ngopi.
Akhirnya Senopati Bodor pun melaju menuju Senona. Roda berputar, rantai berisik, napas ngos-ngosan, dan beberapa anggota mulai bertanya dalam hati:
“Ngapain tadi saya ikut?”
Namun begitulah olahraga. Awalnya ingin sehat. Di tengah jalan ingin pulang. Sampai rumah merasa bangga. Besoknya pegal-pegal lalu menyalahkan sepeda.
Senopati Bodor mungkin belum punya seragam, belum punya sponsor, belum punya jersey mahal, bahkan belum tentu semua anggotanya tahu kapan harus pindah gear.
Tapi satu hal sudah pasti: Mereka punya keberanian untuk mengayuh bersama.
Karena hidup memang begitu. Kadang kita harus maju. Kadang harus berhenti. Kadang harus dorong sepeda.
Dan kadang, setelah melihat tanjakan di depan… Kita pura-pura dapat telepon dari rumah.***
-
Asal Kena7 bulan agoDunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah
-
Campuran5 bulan agoAbang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!
-
Campuran5 bulan agoFilosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok
-
Campuran4 bulan agoJelang Pemilihan RT 06 Senopati, Survei SSI Tempatkan Sona Adriana di Posisi Teratas
-
Asal Kena5 bulan agoPunya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker
-
Campuran5 bulan agoKata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”
-
Asal Kena5 bulan agoUntung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus
-
Asal Kena4 bulan agoAgak Stres Boleh, Asal Jangan Gila!
