Connect with us

Asal Kena

Americano Gratis, Harga Diri Jangan Sampai Nunggak

Published

on

JAM 11.06 WIB, Rabu 30 September 2026. Telepon berdering. Erte Sonna menelepon, bukan untuk membahas warga, bukan soal iuran, apalagi rapat RT yang biasanya lebih panjang daripada usia masalahnya. Ia cuma bertanya, “Kopi?”

Saya jawab, “Americano.”

Kebetulan saya sedang di Pos Dwi Center bersama Acep Palagan. Tentu saja ada Lord Heri. Kalau Pos Dwi Center sudah lengkap, kopi bukan lagi minuman. Ia berubah menjadi alat diplomasi, bahan gosip, sekaligus sarana membuktikan bahwa hidup masih bisa dijalani meskipun saldo sedang melakukan puasa.

Tak lama kemudian kopi datang, bersama Erte Sonna.

Dan seperti biasa, Erte Sonna kembali melakukan ritual rutinnya. Memaksakan diri mentraktir pasukan Dwi Center. Seolah-olah jabatan Erte bukan mengurus warga, tapi Kepala Dinas Perkopian dan Kesejahteraan Nongkrong.

Yang menarik dari Sonna bukan kopinya. Tapi kebiasaannya memberi tanpa banyak perhitungan. Ada orang yang kalau punya uang sibuk menghitung apa yang bisa dibeli. Sonna kadang justru sibuk memikirkan siapa yang bisa dia traktir.

Padahal secangkir kopi mungkin cuma belasan ribu. Tapi niat baik memang sering bekerja dengan rumus yang aneh. Nominalnya kecil, rasa hangatnya bisa panjang.

Di Dwi Center kami akhirnya paham satu hal. Orang baik tidak selalu datang membawa solusi besar. Kadang cuma datang membawa kopi.

Dan mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah orang lain. Sesekali cukup menjadi orang yang membuat orang lain merasa, “Tenang, hari ini ada yang bayarin kopi.”

Terima kasih, Erte.

Americano-nya pahit. Tapi traktirannya manis. Yang pahit biar kopinya. Jangan hidupnya. Wakwaw.***

Terpopuler

Copyright © 2026