Asal Kena
Acep Menemukan Makna Hidup di Dalam Bala-Bala

MALAM nobar Timnas Indonesia melawan Bangladesh di Pos Satpam Senopati, Pembina Ardan datang membawa bala-bala, gehu pedas, dan karoket dari Sanggar Mas Banjaran.
Belum sempat komentator menyebut susunan pemain, pasukan Dwi Center alias Pos Satpam sudah lebih dulu menyusun strategi. Siapa duduk paling dekat piring, siapa pura-pura tidak lapar, dan siapa yang tangannya paling cepat.
Di tengah keramaian itu, Acep Palagan alias Acep Suherman tiba-tiba berubah menjadi Profesor Bala-Bala.
Menurut Acep, bala-bala bukan sekadar gorengan. Ia adalah gambaran kehidupan manusia. Bentuknya tidak beraturan, isinya campur-campur, ada kol, wortel, daun bawang, tepung, semuanya menyatu dalam minyak panas. Persis kehidupan. Berantakan, tapi kalau tahu cara menikmatinya, tetap enak.
“Bala-bala ngajarkeun urang supaya jangan terlalu sibuk mencari bentuk yang sempurna,” kata Acep. “Da bentuk bala-bala wae teu jelas.”
Pasukan mengangguk. Entah karena paham atau karena sedang menghitung berapa jumlah gorengan yang tersisa.
Acep melanjutkan, “Wortel tidak pernah protes dicampur kol. Kol tidak pernah minta posisi di atas. Daun bawang tidak pernah merasa paling penting. Semuanya rela masuk adonan.”
Dalam bahasa Acep, itulah persatuan. Dalam bahasa pasukan, éta mah sabab geus jadi bala-bala.
Acep belum menyerah. Menurutnya, bala-bala juga mengajarkan bahwa kehidupan membutuhkan tekanan. Adonan harus masuk minyak panas agar berubah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
“Manusia juga begitu,” katanya. “Kadang harus kena tekanan dulu supaya matang.”
Seorang pasukan langsung menyahut, “Berarti nu sok diteken ku kahirupan téh keur digoreng?”
Acep mengangguk serius.
“Bisa jadi.”
“Mun kitu, naha teu jadi bala-bala?”
Acep diam.
Pasukan tertawa. Acep kalah debat dengan gorengan.
Tapi ia kembali mengambil satu bala-bala. Katanya, bala-bala juga mengajarkan kerendahan hati. Tidak peduli bentuknya jelek, kalau sudah matang tetap dicari. Bahkan kadang yang bentuknya paling berantakan justru paling cepat habis.
Mirip manusia. Yang penting bukan tampangnya, tapi manfaatnya.
Acep kemudian melirik gehu pedas dan karoket.
“Gehu ogé aya filosofina,” katanya.
Pasukan kembali diam.
Menurut Acep, gehu mengajarkan keberanian. Dari luar kelihatannya biasa saja, tapi begitu digigit bisa langsung membuat seseorang mempertanyakan keputusan hidup.
Karoket berbeda lagi. Bentuknya rapi, dibungkus, digoreng sampai kecokelatan. Tapi isinya tidak selalu bisa ditebak.
“Jadi,” kata Acep, “bala-bala itu kehidupan. Gehu itu perjuangan. Karoket itu misteri.”
Acep mempercepat kuliahnya.
“Bala-bala adalah simbol kebersamaan!”
“Hidup itu memang sementara. Tapi kalau bala-balanya sudah datang, jangan kebanyakan teori. Keburu habis.”
Acep masih bicara tentang kebersamaan, sementara tangannya perlahan bergerak mendekati piring.
Seorang pasukan melihat.
“Cep, éta tangan naha maju sorangan?”
Acep menarik tangannya.
“Refleks.”
Malam itu Pembina Ardan membawa gorengan. Acep membawa filsafat. Pasukan membawa nafsu makan.
Bala-bala mengajarkan kehidupan. Gehu mengajarkan keberanian. Karoket mengajarkan misteri. Cengek mengajarkan kebahagian.
Tapi pada akhirnya, semua filsafat itu kalah oleh satu kenyataan:
Hidup memang penuh makna. Tapi kalau gehu terakhir sudah di depan mata, persatuan juga punya batas.***
-
Asal Kena7 bulan agoDunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah
-
Campuran5 bulan agoAbang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!
-
Campuran5 bulan agoFilosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok
-
Campuran3 bulan agoJelang Pemilihan RT 06 Senopati, Survei SSI Tempatkan Sona Adriana di Posisi Teratas
-
Asal Kena5 bulan agoUntung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus
-
Campuran5 bulan agoKata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”
-
Asal Kena5 bulan agoPunya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker
-
Asal Kena4 bulan agoAgak Stres Boleh, Asal Jangan Gila!
