Connect with us

Asal Kena

Mangkukna Bukan Mangkuknya: Filsafat H-2 dari Erte 06

Published

on

SAYA dari Purwakarta, lalu ditakdirkan Tuhan menjadi warga Banjaran, Bandung. Sebagai warga pendatang, saya harus belajar banyak hal. Mulai dari nama jalan, kebiasaan warga, sampai bahasa yang kadang membuat saya merasa perlu sekolah lagi.

Salah satunya kata “mangkukna.”

Kata ini sering keluar dari mulut Erte Sonna, Erte 06 Senopati, Banjaran, Tarajusari, terutama kalau sedang ngobrol di Pos Satpam alias Dwi Center.

Awalnya saya kira mangkukna itu, ya, mangkuknya.

Mangkuk punya siapa?

Mangkuk di mana?

Ternyata, setelah saya cari tahu di Google, mangkukna berarti dua hari yang lalu. Kemarin dulu. H-2.

Saya langsung tercerahkan.

Ternyata bahasa Sunda tidak cuma punya kosakata. Ia punya cara sendiri untuk membuat manusia merenungi waktu.

Erte Sonna tinggal bilang, “Éta mah mangkukna.”

Selesai.

Saya langsung dibawa dua hari ke belakang tanpa perlu naik kendaraan.

Inilah kehebatan Erte 06.

Ketua RT mungkin mengurus warga hari ini. Erte Sonna mengurus masa lalu.

Dan sejak mengetahui arti mangkukna, saya mulai memahami satu hal yang sangat filosofis, atau mungkin sok filosofis:

“Hidup memang terus berjalan ke depan, tetapi kalau kata Erte Sonna, jangan lupa sesekali nengok mangkukna.”

Bukan karena lapar. Tetapi karena masa lalu ternyata bisa bikin kita salah ambil mangkuk.

Di Dwi Center, hidup tidak selalu harus dipahami. Kadang cukup duduk, ngopi, cungar-cengir, lalu pulang membawa cerita yang tidak jelas ujungnya. Sebab kebersamaan itu seperti bumbu. Tidak selalu kelihatan, tetapi kalau tidak ada, rasanya pasti beda.

Mungkin memang begitu filosofi hidup.

Tidak semua yang terdengar seperti mangkuk adalah mangkuk.

Kadang itu cuma Erte Sonna yang sedang membawa kita jalan-jalan ke H-2.***

Terpopuler

Copyright © 2026