Asal Kena
Apa Pun Hasilnya, Tetap Ada yang Dibakar

MALAM ini, Pos Satpam Senopati Banjaran alias Dwi Center kembali menjadi stadion paling sederhana di dunia.
Tidak ada tiket. Tidak ada tribun. Tidak ada VAR yang bisa ditanya-tanya.
Yang ada cuma televisi, kopi, rokok, dan sekumpulan manusia yang kalau Timnas main mendadak merasa dirinya bagian dari staf kepelatihan.
Kali ini Indonesia berhadapan dengan Malaysia.
Pertandingan berat. Indonesia sempat mencetak gol melalui Justin Hubner, tetapi dianulir. Memasuki menit ke-36, Indonesia harus bermain dengan 10 orang setelah Thom Haye mendapat kartu merah usai wasit meninjau VAR.
Babak kedua Malaysia lebih banyak menekan, sementara Indonesia bertahan dan sesekali mencoba mencari peluang.
Namun sampai peluit panjang berbunyi, tidak ada gol tambahan.
Indonesia 0-0 Malaysia.
Imbang.
Tapi di Dwi Center, hasil pertandingan ternyata tidak pernah menentukan apakah malam harus dirayakan atau tidak.
Karena setelah pertandingan selesai, bandeng dan cumi dari Pelabuhanratu, Sukabumi, justru naik panggung.
Ikan-ikan itu merupakan bawaan orang tua Joel Pelupessy saat berkunjung ke rumahnya.
Baru setelah pertandingan selesai, semuanya dibakar.
Bukan karena Indonesia menang. Bukan juga karena Malaysia kalah. Tapi karena memang apa pun hasilnya, selalu ada alasan untuk berkumpul dan merayakan.
Kalau menang, kita bakar ikan. Kalau imbang, kita bakar ikan. Kalau kalah? Ya tetap bakar ikan.
Sebab mungkin begitulah cara sederhana manusia berdamai dengan kehidupan.
Tidak semua pertandingan harus dimenangkan untuk layak dirayakan.
Kadang kita hanya perlu hadir, duduk bersama, tertawa, lalu makan sesuatu yang dibakar setelah 90 menit penuh ketegangan.
Di Dwi Center, filosofi malam ini sederhana:
Skor boleh 0-0. Semangat jangan 0-0. Dan ikan, setelah pertandingan, wajib 100 persen matang.
Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari sebuah pertandingan bukan cuma hasil.
Tapi cerita, kebersamaan, dan perasaan bahwa malam ini kita tidak melewatinya sendirian.
Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari nobar malam ini:
Dalam sepak bola, kita sering sibuk menghitung siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam hidup, jangan-jangan yang lebih penting justru siapa yang masih mau duduk bersama setelah semuanya selesai.
Sebab kemenangan bisa habis dalam 90 menit. Kekalahan bisa dilupakan setelah beberapa hari.
Tapi kebiasaan berkumpul, berbagi makanan, dan menertawakan nasib bersama-sama,bitu yang diam-diam membuat hidup terasa tidak terlalu serius.
Lagipula, kalau setiap hasil pertandingan harus menentukan mood kita, berarti hidup kita terlalu murah. Diserahkan kepada 22 orang yang mengejar satu bola.
Maka malam ini:
Indonesia boleh imbang. Kita tetap senang. Ikan tetap dibakar. Dan hidup tetap berjalan.
Karena di Dwi Center, yang penting bukan selalu menang, yang penting selalu punya alasan untuk merayakan.***
-
Asal Kena7 bulan agoDunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah
-
Campuran5 bulan agoFilosofi Orang Bloon: Antara Rebahan, Penyesalan, dan Niat yang Selalu Besok
-
Campuran5 bulan agoAbang Mengalah Aja, tapi Jangan Pernah Kalah!
-
Campuran3 bulan agoJelang Pemilihan RT 06 Senopati, Survei SSI Tempatkan Sona Adriana di Posisi Teratas
-
Asal Kena5 bulan agoUntung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus
-
Campuran4 bulan agoKata Arsyila, “Ayah Mau ke Mana?”
-
Asal Kena5 bulan agoPunya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker
-
Asal Kena4 bulan agoAgak Stres Boleh, Asal Jangan Gila!
