Connect with us

Asal Kena

Timnas Juara! Thailand Kalah! Kambing: “Aing Salah Naon?”

Published

on

SENIN malam, 5 Oktober 2026, depan Pos Satpam Senopati Banjaran mendadak naik kasta. Biasanya tempat ngopi, ngudud, ngobrolkeun naon wae, malam itu berubah jadi markas suporter Timnas.

TV Pos dinyalakan, sound system dipasang, terpal digelar. Warga pun ngariung. Tidak ada layar besar, tidak ada tribun VIP. Yang ada cuma TV Pos, terpal, sound system, dan semangat nasionalisme yang volumenya kadang lebih besar daripada speakernya.

Nobar Timnas lawan Thailand dalam Asean FIFA Cup berlangsung panas. Setiap Timnas menyerang, warga teriak. Thailand menyerang, warga lebih teriak. Beberapa warga yang sehari-hari lebih sering nonton bola sambil tiduran mendadak berubah jadi pelatih kepala.

Oper! Tembak! Maju!

Kalau semua instruksi dari atas terpal dituruti, mungkin pelatih Timnas tinggal ngopi di Pos.

Tapi malam itu ada satu pemain yang sebenarnya tidak pernah masuk lapangan, namun nasibnya justru sudah dipastikan ikut dalam pertandingan.

Namanya kambing.

Satu ekor kambing sudah disiapkan untuk syukuran atas keberhasilan Timnas melaju ke final. Jadi malam itu ada yang berjuang di lapangan, ada yang berjuang di depan TV, dan ada satu makhluk yang sejak awal mungkin sedang bertanya dalam hati:

“Aing salah naon?”

Kambing tersebut tentu tidak pernah menjegal pemain Thailand. Tidak pernah mencetak gol bunuh diri. Tidak pernah salah oper. Bahkan kemungkinan besar tidak tahu Timnas sedang melawan siapa.

Tapi tetap saja, nasibnya sudah masuk daftar susunan acara.

Timnas menang, kambing matang.

Begitu jeda babak pertama, pertandingan berhenti sebentar. Warga pun mengalihkan perhatian dari strategi sepak bola ke strategi pembagian sate.

Piring beredar. Tusuk sate berpindah tangan. Gulai mulai diserbu.

Untuk beberapa menit, Thailand benar-benar tidak penting. Yang penting sate jangan sampai kebagian orang sebelah.

Ada yang makan sambil tetap melirik TV. Ada yang tangannya memegang sate, matanya ke pertandingan, mulutnya tetap komentar. Multitasking khas warga, satu tangan pegang tusuk sate, satu mulut jadi komentator.

Sementara itu, mungkin kalau kambing masih bisa memberikan komentar, dia cuma akan bilang: “Jadi gara-gara Timnas menang, aing yang kalah?”

Babak kedua dimulai. Warga kembali fokus. Teriakan menggema. Sound system bekerja. TV Pos menjadi saksi. Terpal menjadi tribun kehormatan.

Dan ketika akhirnya Timnas memastikan diri menjadi JUARA, depan Pos Satpam langsung pecah.

Warga bersorak. Yang punya suara keluar semua. Yang tidak punya suara tetap teriak, hanya hasilnya lebih banyak angin.

Malam itu kita belajar, kebahagiaan ternyata tidak perlu rumit. Tidak perlu stadion megah. Tidak perlu layar raksasa. Cukup TV Pos, sound system, terpal, makanan, dan sekumpulan warga yang mau duduk bersama.

Timnas membawa pulang gelar juara. Warga membawa pulang cerita.

Sate membawa pulang… kenangan yang sudah tidak bisa dikunyah lagi.

Sedangkan kambing? Tidak pulang. Ia telah memberikan kontribusi terbaiknya bagi kemenangan Timnas dan persatuan warga Senopati Banjaran.

Thailand dikalahkan. Kambing dikulahkan. Timnas juara. Warga kenyang.

Dan kalau malam itu kambing sempat bertanya, “Aing salah naon?”

Jawabannya sederhana: “Teu salah, Mang. Ngan kabeneran aya syukuran.”

Begitulah Senopati Banjaran. Kalau tidak punya stadion, kita punya Pos Satpam. Kalau tidak punya layar besar, kita punya TV Pos. Kalau mau syukuran, ada kambing.

Kalau enggak kambing, ya entog. Kalau lagi pada bokek… Manuk piit dititir.***

Terpopuler

Copyright © 2026