Connect with us

Asal Kena

30 Kiloan Sepeedaan, Karena Hidup Memang Harus Ada yang Dipedalkan

Published

on

MINGGU pagi, 27 September 2026. Ketika sebagian orang masih bernegosiasi dengan alarm, kelompok Pa Pujo dan Mas Dwi justru sudah bernegosiasi dengan tanjakan.

Sekitar 30 kiloan mereka gowes dari Komplek Senopati Banjaran menuju Sumber Air Baku Citiis, Baros, Arjasari.

Padahal malam sebelumnya, Mas Dwi cuma bilang santai di grup:

“Bilih aya anu salse tabuh 6, urang sasapedahan.”

Kalimat yang terdengar sederhana. Tapi ternyata “sasapedahan”-nya 30 kiloan.

Tilu puluh kilo! Jarak yang cukup untuk membuat orang bertanya, “Ieu rek olahraga atawa rek pindah komplek?”

Tapi begitulah manusia. Ada yang mencari kenyamanan, ada yang mencari rezeki, ada juga yang mencari tanjakan. Pa Pujo dan Mas Dwi memilih yang terakhir. Meureun geus bosen hirup datar.

Sepeda dikayuh, napas diatur, keringat ditabung. Jalanan naik turun seperti kehidupan: kadang lancar, kadang ngos-ngosan, kadang ingin berhenti, tapi teman di depan masih jalan.

“Hayu, dikit deui!”

Padahal yang ngomong juga sudah mulai mencari tempat untuk ngagoler.

Di situlah serunya sepedaan kelompok. Kalau sendirian, tanjakan terasa seperti musuh. Kalau bareng-bareng, tanjakan berubah jadi bahan cerita.

Tujuannya Sumber Air Baku Citiis. Tapi sebelum sampai, mungkin mereka sudah menemukan sumber lain. Sumber keringat, sumber tawa, dan sumber omongan yang tidak habis-habis.

Hidup memang harus terus dikayuh. Umur bertambah, cicilan jalan, tapi semangat jangan sampai kempes.

Karena hidup tidak harus selalu datar. Kadang harus menanjak, supaya kita tahu siapa yang mau menunggu.

Dan yang paling penting setelah nanjak, biasanya ada turunan.***

 

Terpopuler

Copyright © 2026