Connect with us

Asal Kena

Mas Dwi dan Teori Bahwa Pos Satpam Bisa Jadi Rumah Kedua

Published

on

ADA manusia yang punya rumah. Ada yang punya rumah kedua. Ada juga yang rumah keduanya adalah Pos Satpam Senopati. Yang terakhir ini adalah Mas Dwi.

Entah sejak kapan Pos Satpam berubah fungsi. Awalnya tempat satpam berjaga. Lama-lama ada kursi, ada obrolan, ada kopi, ada gitaran, ada orang nongkrong, dan ada Mas Dwi. Kalau perkembangan ini dibiarkan beberapa tahun lagi, mungkin Pos Satpam akan punya sertifikat sendiri: Dwi Center, cabang Senopati.

Mas Dwi memang orangnya santai. Terlalu santai malah. Orang lain pulang kerja mencari rumah, Mas Dwi pulang kerja mencari pos. Orang lain kalau punya waktu luang bingung mau ke mana, Mas Dwi tinggal belok sedikit. Tujuan jelas. Tidak perlu Google Maps. Titik koordinatnya sudah tertanam dalam hati.

Tapi yang menarik, Mas Dwi bukan tipe manusia yang datang cuma untuk menikmati fasilitas. Kalau ada yang kurang, dilengkapi. Kalau ada yang belum nyaman, dibikin nyaman. Kalau ada yang nongkrong, dianggap teman. Jadi beliau bukan sekadar penghuni tetap, tetapi semacam investor kenyamanan rakyat kecil.

Makanya tidak berlebihan kalau ada yang menyebut Mas Dwi sebagai pahlawan Pos Satpam tanpa tanda jasa.

Tanda jasanya memang tidak ada.

Jasanya yang ada.

Dan karena beliau tenaga kesehatan di RS Welas Asih, urusan menolong orang memang sudah menjadi semacam software bawaan. Ada orang celaka, dibantu. Ada yang butuh pertolongan, ditolong. Ada yang cuma masuk angin, paling tidak didengarkan dulu keluhannya. Kalau ada yang patah hati, mungkin belum masuk kompetensi medis, tapi minimal bisa diajak ngopi.

Itulah kelebihan Mas Dwi. Santainya tidak membuat dia kehilangan kepedulian.

Justru mungkin itu rahasia hidup yang sering kita lupakan. Kita terlalu sibuk ingin menjadi orang penting, sampai lupa menjadi orang yang berguna.

Mas Dwi kelihatannya biasa saja. Duduk. Ngobrol. Ngopi. Ketawa. Sesekali bantu orang. Tapi ternyata hidup memang tidak selalu membutuhkan manusia yang kelihatannya luar biasa. Kadang cukup manusia yang kalau hadir membuat suasana lebih enak.

Sebab manfaat tidak selalu harus berupa pidato panjang, seminar tujuh sesi, atau status WhatsApp yang tulisannya sampai tiga layar.

Kadang manfaat itu sederhana.

Ada orang datang ke pos dalam keadaan capek, lalu bisa ketawa karena ngobrol dengan kita.

Ada orang sedang kesusahan, lalu kita bantu.

Ada orang celaka, lalu kebetulan kita tahu harus berbuat apa.

Ada orang cuma ingin duduk, lalu kita bikin tempat duduk itu terasa seperti rumah.

Sesederhana itu.

Mungkin Mas Dwi belum sadar bahwa selama ini ia sedang menjalankan filosofi hidup yang cukup mahal: menikmati hidup tanpa lupa membuat hidup orang lain sedikit lebih mudah.

Bedanya, filsuf biasanya menulis buku.

Mas Dwi cukup duduk di pos.

Filsuf bicara tentang ketenangan jiwa.

Mas Dwi mungkin sambil ngopi bilang, “Heueuh, tong dipikirkeun teuing.”

Dan anehnya, kadang nasihat seperti itu justru lebih masuk akal.

Jadi kalau suatu malam Pos Satpam Senopati terlihat ramai, jangan heran. Itu bukan lagi pos satpam.

Itu sudah menjadi pusat peradaban kecil.

Dwi Center.

Tempat orang datang tanpa undangan, pulang tanpa sertifikat, tapi biasanya membawa cerita.

Dan Mas Dwi?

Tetap santai.

Karena mungkin beliau sudah menemukan satu rahasia kehidupan:

Tidak semua yang tidak buru-buru berarti tidak punya tujuan. Bisa jadi memang tujuannya cuma bikin orang lain nyaman.***

Ibon

Terpopuler

Copyright © 2026