Connect with us

Asal Kena

Empat Bapak, Satu Kolam, Banyak Pikiran

Published

on

ADA orang menikmati hidup dengan liburan ke Bali. Ada yang naik gunung. Ada yang ngopi di kafe mahal.

Empat bapak ini cukup berenang di Kolam Renang Senopati Banjaran.

Hari ini hadir Pembina Ardhan, Mas Pujo, Coach Andre, dan Bos Hendi. Empat manusia dengan latar belakang berbeda, tapi punya satu kesamaan: sama-sama sedang berusaha terlihat santai, padahal urusan hidup mah teu aya nu bener-bener santai.

Pembina Ardhan adalah suhu sekaligus panutan bapak-bapak muda Komplek Senopati. Tegas, bijaksana, dan kalau urusan donasi, tangannya lebih ringan daripada mulutnya. Tipe manusia yang kalau bicara bikin orang mikir, “Iya juga,” meskipun lima menit kemudian lupa lagi.

Di sebelahnya ada Mas Pujo, seniman komplek sekaligus provokator sasapedahan. Menurutnya, hidup harus dinikmati. Olahraga, ngopi, ngobrol, muter-muter, pokoknya jangan kebanyakan diam di rumah karena bisa kepikiran cicilan.

Lalu ada Coach Andre. Binaragawan sejati. Badannya seperti hasil kerja sama antara protein, disiplin, dan niat hidup sehat. Tapi anehnya, semakin besar ototnya, semakin lembut senyumnya. Jarang emosian. Mungkin karena kalau marah pun dia sadar, lawannya belum tentu kuat mengangkat mentalnya.

Dan terakhir, Bos Hendi.

Pegawai BUMN yang jago komunikasi, dermawan, penyayang istri, dan rumahnya strategis: dekat kolam renang Senopati.

Ini bukan sekadar lokasi rumah.

Ini adalah strategi hidup.

Bapak-bapak kalau sudah dekat kolam renang, kopi dan makanan biasanya lebih mudah diamankan. Jadi olahraga berjalan, silaturahmi berjalan, perut juga tidak dibiarkan kehilangan haknya.

Pagi itu mereka berenang sambil ngobrol soal hidup.

Tidak ada seminar. Tidak ada slide PowerPoint. Tidak ada moderator. Tidak ada sertifikat.

Cuma empat bapak, air kolam, obrolan ngalor-ngidul, dan mungkin sesekali pembicaraan yang awalnya soal kesehatan, ujung-ujungnya nyasar ke harga makanan, pekerjaan, keluarga, sampai kapan sasapedahan deui.

Begitulah cara bapak-bapak menikmati hidup.

Kadang kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di tempat jauh, padahal yang dicari sebenarnya cuma waktu luang, teman ngobrol, badan yang masih bisa diajak bergerak, dan hati yang masih mau tertawa.

Sebab umur bertambah bukan berarti hidup harus semakin serius.

Justru mungkin kita perlu belajar lagi menjadi manusia yang sederhana: berenang, ngobrol, ngopi, bercanda, lalu pulang membawa hati yang sedikit lebih ringan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma tentang siapa yang paling banyak punya.

Tapi siapa yang masih bisa menikmati apa yang sudah ada.

Dan pagi ini, empat bapak tersebut sepertinya sudah menemukan jawabannya.

Di kolam renang.

Dengan air yang dingin.

Obrolan yang panas.

Dan kemungkinan besar…
Kopi Bos Hendi yang tidak pernah dingin terlalu lama.***

Terpopuler

Copyright © 2026