Connect with us

Asal Kena

Haji Haikal dan Ilmu Dagang Harga Bakso Keliling

Published

on

DI Senopati Banjaran ada satu pedagang pakaian yang cara dagangnya agak menyimpang dari teori ekonomi. Namanya Haji Haikal. Asli Madura, tapi sudah menjadi bagian dari warga Senopati. Sehari-hari jual baju, celana, dan segala rupa pakaian.

Sesekali dagang, sesekali ngudud, ngopi, ngawangkon, main bola, atau sekadar nongkrong di Pos Satpam Senopati alias Dwi Center. Pokoknya kalau Pos sudah ramai, kemungkinan besar Haji Haikal ada di antara asap rokok dan obrolan yang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali ketawa.

Yang menarik adalah ketika Haji Haikal mulai jualan.

Harga barangnya kadang bikin orang curiga. Bukan karena mahal, tapi karena kok murah teuing?

Baju yang secara ekonomi mestinya dijual sekian, oleh Haji Haikal bisa berubah menjadi harga yang kurang lebih setara dengan semangkuk bakso keliling. Kadang untung seribu perak pun tidak masalah. Yang penting barang laku, warga senang, dan hubungan tetangga tetap hangat.

Dalam dunia perdagangan, Haji Haikal mungkin sedang melakukan sesuatu yang oleh para ahli disebut tidak efisien. Tapi dalam dunia pertemanan, mungkin justru itulah efisiensinya: untung sedikit, tapi bahagia banyak.

Sebab bagi Haji Haikal, tidak semua keuntungan harus berbentuk uang.

Ada keuntungan yang bentuknya warga datang lagi. Ada yang bentuknya ngobrol di Pos. Ada yang bentuknya teman bertambah. Ada yang bentuknya orang bilang, “Hatur nuhun, Ji,” sambil membawa baju murah yang tadi hampir saja membuat ilmu ekonomi kehilangan arah.

Juhud memang.

Kalau pedagang lain menghitung keuntungan sampai dua angka di belakang koma, Haji Haikal mungkin cukup menghitung, “Yang penting teu rugi silaturahmi.”

Sebab kadang manusia terlalu sibuk mencari untung, sampai lupa bahwa hidup bukan hanya soal berapa yang masuk ke kantong, tapi berapa banyak kebaikan yang tinggal di hati orang lain.

Haji Haikal mungkin tidak sedang membangun kerajaan bisnis.

Dia cuma sedang membangun sesuatu yang jauh lebih sederhana: tetangga yang senang, teman yang betah, dan Pos yang selalu punya alasan untuk didatangi.

Untung seribu perak?

Tidak masalah.

Asal jangan sampai untung banyak, tapi kehilangan manusia.

Karena dalam perdagangan kehidupan, bisa jadi margin terbesar bukan uang. Tapi keberkahan.***

Terpopuler

Copyright © 2026