Connect with us

Asal Kena

Punya Kenalan Menteri Tapi Otak Masih Nyangkut di Rice Cooker

Published

on

ADA orang yang hidupnya percaya satu hal: “Yang penting punya relasi.” Kenal stafsus dikit langsung bio Instagram-nya berubah jadi: “Aktivis | Strategist | Political Network | Coffee Enthusiast.” Padahal kerjaannya cuma nongkrong hsambil nunggu di-tag story.

Lucunya, banyak yang mengira hidup itu kayak main ular tangga. Tinggal dekat sama orang penting, otomatis naik level. Padahal kenyataannya lebih mirip odong-odong pasar malam: muter-muter, bunyi dangdut, tapi nggak ke mana-mana.

Punya relasi mentereng itu bagus. Tapi kalau otaknya kosong, ya percuma. Mau sedekat apa pun sama pejabat, pengusaha, atau anak ketua RT yang suka bikin status “sibuk meeting”, kalau skill nol ya akhirnya cuma jadi pajangan sosial. Kaya vas bunga di ruang tamu: ada, tapi nggak terlalu dibutuhkan.

Sekarang zamannya beda. Dunia makin kejam tapi elegan. Orang bisa senyum sambil nyisihin kita pelan-pelan. Apalagi di era sekarang, kemampuan ngejilat aja udah nggak cukup. Bahkan penjilat pun sekarang dituntut profesional.

Iya, serius.

Penjilat modern harus punya value. Minimal ngerti timing, ngerti strategi, ngerti cara ngomong, ngerti kapan harus diam. Kalau cuma modal ketawa paling keras pas bos bercanda receh, itu bukan networking. Itu refleks lapar validasi.

Banyak orang terlalu percaya diri karena merasa “dekat orang besar”. Padahal yang besar cuma fotonya waktu salaman.

Kita ini sering salah paham soal bantuan. Dikira orang nolong karena sayang. Padahal kadang cuma karena kita masih ada manfaatnya. Begitu manfaat habis, ya selesai. Chat nggak dibalas. Telepon dialihkan. Undangan kopi berubah jadi “nanti ya bro, lagi padat.”

Begitulah hidup. Kadang kita bukan teman, cuma fitur gratis masa percobaan.

Makanya jangan terlalu bangga jadi “orang dekat”. Dekat itu belum tentu penting. Nyamuk juga dekat sama manusia, tapi tetap ditepuk.

Kita nggak bisa selamanya berdiri di atas kaki Jokowi, Prabowo, atasan, senior, paman DPR, atau tetangga yang punya rental sound system. Hidup harus belajar berdiri di atas kaki sendiri. Walaupun kadang kaki sendiri juga encok dan cicilan belum lunas.

Karena pada akhirnya, dunia nggak terlalu peduli siapa yang kita kenal. Dunia lebih tertarik: kita bisa apa?

Orang berguna akan dicari. Orang cuma modal nongkrong akan dilupakan. Itu sebabnya banyak tongkrongan bubar begitu WiFi dicabut.

Hidup bukan soal seberapa sering kita hadir di circle elit sambil pegang kopi mahal dan muka serius seolah habis rapat ketahanan nasional. Hidup itu soal apakah keberadaan kita bikin sesuatu jadi lebih baik atau malah bikin grup WhatsApp makin sepi.

Kehadiran tanpa manfaat itu mirip sinyal E di tengah hujan: ada, tapi bikin emosi.

Jadi daripada sibuk cari pundak orang penting buat ditumpangi, lebih baik upgrade diri. Belajar skill. Belajar kerja. Belajar mikir. Syukur-syukur belajar sadar diri.

Karena relasi bisa bikin kita masuk pintu. Tapi kualitaslah yang bikin kita nggak ditendang keluar.

Dan percayalah… Di dunia yang penuh pencitraan ini, orang kompeten tetap lebih dicari daripada orang yang cuma jago bilang, “Siap komandan.”***

 

Asal Kena

Untung Punya Isteri Santuy, Hidup Saya Gagal Terus

Published

on

By

DARI ratusan ide, yaaa paling lima sampai sepuluh yang benar-benar dilaksanakan. Yang berhasil? Paling satu atau dua. Sisanya kebanyakan gagal. Ada yang mati sebelum mulai, ada yang semangatnya cuma tahan tiga hari, ada juga yang hancur pelan-pelan sambil bikin saya bengong sendiri lihat rekening.

Kadang saya mikir, otak saya ini kayak grup brainstorming yang nggak pernah bubar. Tiap malam muncul ide baru. Mau bikin usaha ini lah, bikin konten itu lah, jualan anu lah, bikin proyek segala macam. Pas malam rasanya seperti calon orang sukses. Paginya bingung modal dari mana.

Untung saja saya punya isteri santuy.

Yang selalu mendengarkan ocehan-ocehan saya, walaupun mungkin dalam hatinya dia capek juga dengar suaminya tiap minggu punya cita-cita baru. Tapi hebatnya, dia nggak pernah langsung motong omongan saya dengan kalimat: “Udahlah, yang realistis aja.”

Dia justru lebih sering jawab: “Ya coba aja dulu.”

Padahal yang dicoba kadang aneh-aneh.

Pernah saya semangat mau bikin usaha yang menurut saya bakal meledak di pasaran. Saya presentasi ke isteri seperti bos startup lagi cari investor. Pakai nada meyakinkan, pakai hitung-hitungan yang bahkan saya sendiri nggak ngerti. Dia cuma ngangguk sambil makan kerupuk.

Dua bulan kemudian usahanya tutup.

Saya stres. Dia malah bilang, “Ya udah, berarti bukan rezekinya di situ.”

Santuy banget.

Kadang saya heran, kenapa dia bisa setenang itu hidup sama manusia penuh ide tapi minim keberhasilan kayak saya. Karena jujur aja, hidup sama orang yang gampang bosan itu melelahkan. Hari ini semangat, besok drop. Hari ini yakin bakal sukses, minggu depan mendadak pengen mulai hidup baru lagi.

Saya sendiri kadang capek sama diri sendiri.

Apalagi kalau lihat teman-teman lain hidupnya mulai stabil. Ada yang kariernya naik. Ada yang usahanya berkembang. Ada yang rumahnya makin bagus. Sementara saya? Masih sibuk nyusun ulang mimpi setelah gagal berkali-kali.

Pernah di satu malam saya bilang ke isteri, “Kayaknya aku gagal terus deh.”

Dia malah ketawa kecil.

Katanya, “Kalau gagal terus mah kita udah nggak makan dari dulu.”

Kalimat sederhana, tapi lumayan nusuk.

Karena ternyata selama ini saya terlalu sibuk menghitung kegagalan, sampai lupa kalau masih ada hal-hal kecil yang berjalan. Masih bisa makan. Masih bisa ketawa. Masih bisa ngopi walau sachetan. Masih bisa tidur walau pikiran muter-muter.

Dan yang paling penting, masih ada orang yang tetap percaya sama saya meski bukti suksesnya belum seberapa.

Mungkin hidup memang nggak selalu soal menang besar. Kadang cuma soal bertahan waras sambil tetap mencoba lagi. Walau pelan. Walau sering jatuh. Walau kadang kelihatan kayak orang bingung sendiri.

Sekarang saya masih sering punya ide random. Masih sering gagal juga. Bedanya, sekarang saya nggak terlalu takut.

Karena saya tahu, pulang ke rumah bakal tetap ada isteri santuy yang dengerin ocehan saya sambil bilang, “Ya udah, dicoba lagi aja.”***

Continue Reading

Asal Kena

Dunia Emang Kayak Gini, Pusing Dikit Mah Terima Ajalah

Published

on

By

Ilustrasi gambar dinamika hidup/AI

TERLALU banyak ngeluh, eh akhirnya capek juga. Bukan makin tenang, malah makin ruwet.

Setelah dikeplak kepala ini, akhirnya saya sadar, yang salah itu bukan kehidupan, apalagi tukang cilor, melain isi kepala.

Aslinya ini mah, pikiran itu yang menentukan hidup kita. Makanya berpikir yang baik-baik aja. Apalagi bagi kamu yang sudah tua bangka, jangan ikut-ikut kelakuan Kakek Sugiono. Tobat!

Udah ya, alam dunia emang kayak gini. Banyaknya bikin susah. Kata siapa? Kata perasaan dan pikiran kita. Walaupun faktanya agak seperti itu, ya risiko jadi manusia, maka terima ajalah ya.

Kenapa harus diterima? Ya mau digimanain lagi. Jalani dan nikmati, lalu syukuri. Nah ini, saya tegaskan syukuri! Makin kita banyak bersyukur, di situlah kebahagian akan selalu membersamai.

Gimana sih, dunia katanya bikin susah, tapi harus bersyukur. Ya iyalah, maka mau enak aja hidup teh. Harus ada “tanjakan”-nya dong. Supaya menarik dan nggak bosen.

Intinya suka duka adalah keniscayaan. Jalani! Suka, nikmati, duka, jadikan pelajaran. Nggak usah sedih. Keduanya, “pasti berlalu”. Ujungnya? Dikubur juga.

Ini bukan motivasi dan nggak banyak pesan hidup. Ini pesan aslinya untuk pribadi saya aja. Gitu kurang lebih. Jadi… Udahlah.***

Continue Reading

Trending

Copyright © 2026